Sabtu, 07 April 2012

Menguatkan Ego Remaja

·                                
Menguatkan Ego Remaja

EGO punya peran penting dalam pembentukan kepribadian remaja. Menurut psikolog Dr. Wisnubrata Hendrojuwono, remaja yang memiliki ketahanan ego yang tinggi lebih mampu mengatasi masalah yang dihadapinya. Dan remaja yang mampu mengontrol egonya, lebih bisa menekan dorongan-dorongan impulsif. Masalahnya kemudian, bagaimana membangkitkan ketahanan dan daya kontrol itu. Ternyata, ada metode pembinaan yang bisa mengembangkan kemampuan remaja menyiasati realitas dan meningkatkan kesanggupan menenggang tekanan realitas. Upaya ini pada hakikatnya merupakan pengembangan fungsi ego. Tujuannya meningkatkan kualitas pribadi, kestabilan emosi, ketahanan mental, serta kemandirian individu. Metode pembinaan itu dikenal sebagai Experiential Learning. Intinya, pengembangan fungsi ego remaja. "Ini merupakan salah satu upaya terobosan yang intensif untuk mempengaruhi tingkah laku remaja," kata Wisnubrata. Sabtu, 26 Mei lalu, di Universitas Padjadjaran Bandung, ia mempertahankan disertasinya "Pengaruh Experiental Learning terhadap Peningkatan Ketahanan Ego dan Kontrol Ego Remaja" yang membahas metode pengembangan itu. Ia lulus dengan yudisium cumlaude. Untuk menggariskan kesimpulannya, Wisnusubrata melakukan penelitian sejak Desember tahun lalu hingga Maret tahun ini. Penelitiannya melibatkan 228 remaja, 114 menjalani pembinaan dan 114 lainnya dijadikan grup pembanding. Semua res- pondennya siswa kelas I SMA Negeri 19 Bandung. Ada sebabnya ia tertarik mengembangkan pembinaan fungsi ego remaja. "Remaja kita semakin kurang bertanggung jawab," katanya. Contohnya, kecil-kecil kalau berkelahi, tusuk-tusukan. Ini menunjukkan daya kontrol ego mereka itu lemah. Sikap lain yang kurang baik: cenderung tidak memperhatikan lingkungannya. Mabuk-mabukan, mengisap ganja, atau berlaku tak mau tahu. Ini menandakan para remaja tidak memiliki ketahanan ego. Individu dengan ketahanan ego rapuh tidak memiliki keluwesan melakukan penyesuaian diri. Bahkan, tidak mampu memberi respons pada situasi yang berkondisi dinamis. Dan itu cenderung menjadi kacau bila menghadapi lingkungan yang berubah. "Apalagi bila berada di bawah tekanan, misalnya pengalaman traumatis," kata Wisnusubrata. Individu dengan ketahanan ego mantap punya banyak akal dalam menyesuaikan diri. Dan selain mampu menganalisa situasi dan merekayasa tingkah lakunya, mereka juga memiliki persediaan strategi untuk menembus masalah. Sementara itu, individu dengan kontrol ego ketat mempunyai kemampuan tinggi memberikan respons. Malah, cenderung tidak memanifestasikan kebutuhan dan keinginan ke dalam tingkah laku mereka. Ciri-ciri mereka, di samping mampu menunda pemenuhan kebutuhan, juga sangat sedikit menunjukkan pernyataan emosi. Mereka terampil dalam memproses informasi dan tak mudah menjadi bingung. Umumnya, mereka kurang melakukan eksplorasi dan punya minat sempit. Namun, mereka suka membuat rencana. Sebaliknya, individu dengan kontrol ego yang lemah lamban dalam memberikan respons. Mereka cenderung ekspresif, spontan, dan sering memanifestasikan kebutuhan kebutuhan dan keinginan ke dalam tingkah laku. Ciri remaja ini cenderung langsung memenuhi kebutuhannya. Mereka tidak cermat dalam memproses informasi. Mereka memiliki banyak minat walau rata-rata tidak tahan lama. Karena itu, mereka mudah bingung. Sikap dan pandangan mereka yang kontrol egonya lemah itu umumnya juga tindak orisinal. Mereka menyukai gaya hidup yang sifatnya sementara. Dalam bertindak, mereka cepat meng- ambil keputusan tanpa persiapan karena mereka menyukai hal-hal yang tak jelas. Dalam penelitiannya, Wisnusubrata menerapkan metode pembinaan selama tiga bulan. Menurut laporan para guru SMAN 19, memang ada perkembangan pada para remaja yang mengikuti program latihan itu. Mereka menjadi lebih terbuka dan lebih banyak bertanya. Pembinan itu kebanyakan dilakukan melalui diskusi. Selain pembahasan materi, diskusi itu sendiri dibicarakan. Contoh, A sedang berbicara, tiba-tiba B memotong pembicaraan A. Pembina lalu bertanya, 'Apa yang A rasakan?' "Saya jengkel," jawab A. Setelah dibicarakan terbuka, B membuat pernyataan, "Saya tidak tahu A bakal jengkel." Dalam pembinaan itu para remaja tidak boleh menggunakan kata sifat. Mereka diminta sebisanya menggunakan kata kerja aktif dalam mendeskripsikan pandangan mereka. Misalnya, tidak boleh mengatakan, "Kamu bohong". Yang dianjurkan, "Pendapat kamu tidak betul". Apa komentar para remaja. "Latihan ini berguna karena saya lebih aktif dalam berpendapat, sekaligus peringatan supaya saya berhati-hati dalam pergaulan agar tidak dirugikan," kata Yeni Asmiati. "Saya jadi bisa melihat kekurangan atau kelebihan orang lain." kata Rina Aprilla. Menghadapi perubahan para remaja yang sudah dibina, menurut Wisnusubrata, orangtua pun harus bisa memberikan pengertian. Yang utama, remaja itu berangkat dewasa, bukan anak-anak lagi. Mereka harus diberi tanggung jawab dan wewenang. Misalnya, remaja pria yang tahu sedikit-sedikit soal listrik, apa salahnya diberi kepercayaan memperbaiki setrikaan. Menghadapi date remaja wanita, orangtua menurut Wisnusubrata tidak harus menanyakan mau ke mana, pulang jam berapa, atau pergi dengan siapa. Apakah metode pembinaan itu sesuai dengan keadaan Indonesia? "Saya rasa sesuai," kata Wisnusubrata. "Kalau kita bisa menerima secara wajar dan proporsional, sikap terbuka justru akan mempercepat kematangan." Seseorang itu jadinya akan cepat menyadari kekurangannya. Prof. Dr. J.S. Nimpoeno, yang menjadi promotornya, berkomentar, "Wisnisubrata menggunakan teori, konsep, dan metode psikologi yang sudah disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya kita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar