Kamis, 05 April 2012

Makan Malam Keluarga Hindarkan Perilaku Buruk Remaja


Makan Malam Keluarga Hindarkan Perilaku Buruk Remaja

Makan malam bersama dalam sebuah keluarga dapat memberikan atmosfer positif untuk tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun psikis.
SESUATU yang sepertinya sepele, seperti makan malam bersama, ternyata membawa dampak dan manfaat yang luar biasa bagi orangtua dan anak-anak. Tidak hanya baik untuk menjalin komunikasi, makan malam bersama juga terbukti dapat menghindarkan remaja dari perilaku buruk.

Semakin meningkatnya aktivitas anak sepulang sekolah dan panjangnya jam kerja orangtua, membuat keluarga di zaman modern saat ini semakin sulit untuk mendapatkan waktu yang berkualitas. Mencuri waktu untuk berkumpul, berkomunikasi, dan berbagi cerita setiap harinya, seperti saat makan malam misalnya, sepertinya selalu gagal diwujudkan.

Padahal, banyak pakar kesehatan dan psikologi yang menyatakan bahwa makan malam bersama dalam sebuah keluarga dapat memberikan atmosfer positif untuk tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun psikis. Bahkan, tidak hanya memperbaiki kesehatan gizi dan mental anak, makan malam terbukti dapat menghindarkan remaja dari perilaku buruk.

Sebuah studi terbaru menunjukkan, remaja yang jarang makan malam bersama keluarga secara rutin memiliki kemungkinan lebih besar terjebak dalam penyalahgunaan narkoba, alkohol, atau menjadi perokok, dibanding dengan remaja yang sering menghabiskan waktu makan malam dengan orang tua mereka.

Sebuah laporan dari Lembaga Nasional Pusat Kecanduan dan Penyalahgunaan Obat (National Center on Addiction and Substance Abuse/CASA) di Columbia University, Amerika Serikat, menyatakan bahwa dibandingkan dengan remaja yang makan malam dengan keluarga sebanyak lima sampai tujuh kali per minggu, mereka yang melakukannya kurang dari dua kali berisiko dua kali menjadi perokok, hampir dua kali lipat lebih mungkin mengonsumsi alkohol, dan 1,5 kali lebih mungkin mengisap ganja. Laporan CASA juga menyatakan, 72 persen dari remaja berpikir makan malam dengan orangtua mereka secara teratur sangat atau cukup penting. Lalu, remaja yang melakukannya kurang dari tiga kali per minggu, dua kali lebih mungkin untuk mengonsumsi ganja atau obat resep lain yang akan mereka gunakan untuk mabuk, dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang makan malam sebanyak 5–7 hari seminggu.

Lalu, apa pesan yang dapat ditangkap oleh para orangtua? Hasil studi tersebut juga mengungkapkan, sekitar 60 persen dari remaja partisipan yang melakukan makan malam dengan keluarga setidaknya lima kali seminggu cenderung untuk mengakui bahwa mereka memiliki teman yang mengonsumsi alkohol, ganja, rokok, atau penyalahgunaan obat terlarang yang dipengaruhi lingkungannya.

”Pesan untuk orangtua belum terlalu jelas, jika belum diketahui secara luas data tentang kenaikan orang Amerika berusia 12 tahun atau lebih yang mengonsumsi narkoba,” kata Kathleen Ferrigno, Direktur Marketing CASA.

“Hal itu lebih penting daripada selalu meminta remaja Anda untuk duduk makan malam bersama keluarga dan melibatkan anak dalam percakapan tentang kehidupan, teman- teman, dan sekolah. Itu hanya sebuah pembicaraan,” lanjutnya seperti dikutip laman webmd.com.

Sebuah laporan pada 17 September lalu oleh badan pemerintah Amerika Serikat, Substance Abuse and Mental Health Services Administration menyebutkan, penggunaan narkoba meningkat pada 2009 sebesar 8,7 persen oleh remaja berusia 12 tahun atau lebih di sana.

Ferrigno, yang juga salah satu ketua CASA mengatakan, kampanye “Makan Malam Bersama Keluarga Setiap Hari” dapat menjadi efektif jika dilihat bukan hanya konteks makan bersamanya saja. Tetapi, lanjut dia, juga karena komunikasi dan percakapan yang tercakup di dalamnya. Ferrigno menegaskan, tidak ada jaminan bahwa setiap orangtua akan selalu mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menjaga anak-anaknya agar bebas dari perangkap obat terlarang.

”Namun, pengetahuan adalah kekuatan. Semakin banyak informasi yang Anda tahu, akan semakin baik. Dan kemungkinan besar Anda akan membesarkan anak yang sehat,” paparnya Laporan CASA terbaru juga mengungkapkan, remaja yang makan malam keluarga kurang dari tiga kali per minggu akan memiliki risiko lebih dari 1,5 kali kemungkinan untuk mempunyai teman yang minum-minuman keras secara teratur dan menggunakan ganja, dibanding dengan rekan-rekan mereka yang duduk manis makan malam bersama keluarga selama lima sampai tujuh kali seminggu.

”Kami telah lama mengetahui bahwa anak-anak yang lebih sering makan malam bersama orangtua mereka, akan semakin kecil kemungkinannya untuk merokok, minum-minuman keras, atau terjebak dalam narkoba,” kata pendiri sekaligus pimpinan CASA Joseph A Califano Jr, yang merupakan mantan sekretaris jenderal (sekjen) Kementerian Kesehatan, Pendidikan, dan Kesejahteraan Amerika Serikat.

”Dalam dunia modern sekarang yang dilingkupi kesibukan dan kepadatan jadwal kerja, meluangkan waktu untuk duduk bersama untuk makan malam benar-benar membuat perbedaan dalam kehidupan seorang anak,” kata Califano Jr.

Temuan laporan ini sendiri diambil dari National Survey of American Attitudes on Substance Abuse XV: Teens and Parents. Kegiatan survei ini melibatkan 1.055 remaja usia 12–17 tahun dan 456 orangtua. Laporan tersebut, Pentingnya Makan Malam Bersama Keluarga bagian VI, juga menghasilkan fakta bahwa remaja yang sering makan malam sekitar tiga kali atau lebih seminggu kemungkinan tinggi untuk memiliki hubungan yang ”sangat baik”dengan ibu dan ayah mereka. Para remaja yang makan malam rutin bersama keluarga dua kali mungkin untuk mengatakan bahwa orangtua mereka adalah pendengar yang baik.

Califano Jr mengatakan, orangtua yang tidak mampu mengajak anak remajanya untuk duduk di meja makan dapat menggunakan cara dan kesempatan yang berbeda untuk berkomunikasi dengan mereka dan pembicaraan tersebut haruslah dijalankan secara rutin.




4 Kebiasaan Buruk Remaja Bahayakan Kesehatan


4 Kebiasaan Buruk Remaja  Bahayakan Kesehatan

Anda terlalu sibuk untuk sarapan? Seringkali sudah sangat mengantuk untuk melepas lensa kontak? Hal ini mungkin terdengar sepele. Tetapi jika sudah menjadi kebiasaan, bisa sangat membahayakan kesehatan Anda.

Hindari empat kebiasaan buruk berikut yang bisa sangat berbahaya bagi kesehatan, seperti dikutip dari Prevention.com

1. Lupa melepaskan lensa kontak saat tidur
 

Membiarkan lensa kontak tetap menempel saat tidur bisa menghambat aliran oksigen pada kornea. Padahal oksigen sangat penting untuk menjaga kesehatan kornea.

"Ketika Anda menutup mata Anda selama berjam-jam saat tidur sambil mengenakan lensa kontak, itu lebih buruk lagi," kata Thomas L. Steinemann, MD, seorang profesor optalmologi di Case Western Reserve University.

Sebuah studi tentang 557 pemakai lensa kontak dalam New England Journal of Medicine menunjukkan bahwa kemungkinan berkembangnya infeksi bakteri, karena menggunakan lensa kontak pada waktu tidur adalah 1 dalam 2.500.

2. Tidak bersihkan riasan menjelang tidur
Membiarkan riasan menempel pada wajah saat tidur, akan memicu tumbuhnya komedo, jerawat bahkan peradangan kulit yang parah. Sedangkan riasan mata yang tidak segera dibersihkan bisa membuat iritasi pada mata dan menimbulkan rasa sakit luar biasa akibat abrasi kornea. Jadi, pastikan, Anda selalu membersihkan riasan sebelum tidur.

3. Selalu pakai stileto
 
Tubuh memang terlihat lebih tinggi, berjalan jadi lebih tegap dan kaki tampak lebih jenjang ketika Anda mengenakan stileto. Tetapi sepatu tumit tinggi bukan untuk dikenakan setiap hari. Jangan sampai tulang kaki Anda mendapat masalah serius di kemudian hari. Sesekali kenakan sepatu datar atau model wedges (hak tebal) untuk membuat kaki beristirahat.

 
4. Menggigit kuku 
Memiliki kebiasaan menggigiti kuku sangat merugikan. Bukan hanya membuat kuku Anda terlihat buruk, tetapi juga bisa mempermudah Anda tertular penyakit. Saat menggigit kuku, akan sangat mudah bakteri pada kuku menempel pada mulut kemudian tertelan.

Kebiasaan Buruk Tak Selamanya Berdampak Buruk


Kebiasaan Buruk Tak Selamanya Berdampak Buruk

TAK selamanya kebiasaan buruk menghasilkan efek yang buruk pula. Justru dari kebiasaan buruk  tersebut tak jarang malah membuat kita menjadi lebih baik. Benarkah?

“Kebiasaan buruk yang kita miliki dan sering dilakukan dalam keseharian ternyata menyimpan manfaat yang baik bagi kesehatan. Kebiasaan buruk memungkinkan kita bertindak seperti anak-anak. Kemungkinannya bisa jadi berimbas jadi memperburuk atau justru membuat baik sesuatu hal. Semuanya tergantung keadaan,” kata Dr Daniel J. Carlat, associate profesor klinis psikiatri di Tufts University School of Medicine sekaligus penulis “Unhinged and the Mental Health Specialist” untuk AOL Health's Medical Advisory Board.

Lantas apa saja kebiasaan buruk yang justru memicu kesehatan menjadi lebih baik. Berikut ini infonya, seperti dirilis Your Tango.

Mengutuk


Mengucapkan beberapa pilihan kata ala Martin Scorsese bisa menjadi pilihan terbaik ketika Anda sedang bosan, frustasi atau sedang marah. Peneliti dari Keele University di Inggris telah menemukan bahwa hal tersebut ternyata memiliki tujuan karena dapat membantu mengurangi rasa sakit fisik yang dirasakan seseorang. Dalam NeuroReport, para ilmuwan menjelaskan bahwa mereka meminta 64 relawan untuk menenggelamkan tangan mereka dalam air dingin yang beku saat mengulang kata kutukan favorit mereka. Setelah itu, mereka diperintahkan untuk melakukan tugas lagi. Hasil akhirnya, ternyata  para relawan tersebut bisa menolerir air dingin dalam jumlah waktu  hampir dua kali lipat. Dalam hal ini, para ahli memang belum bisa menentukan penjelasan yang tepat. Namun, pemimpin peneliti Dr Richard Stephens dan timnya percaya bahwa melembarkan kata tersebut dapat memicu respons dan meningkatkan denyut jantung dan agresi yang dapat membantu tubuh mengatasi rasa sakit.

Putar musik favorit Anda dengan volume keras

Bila Anda seorang pelupa, tak ada salahnya menyetel musik Bon Jovi sesekali waktu. Para peneliti di Glasgow Caledonian University di Skotlandia percaya bahwa mendengarkan musik rock dengan volume tinggi dapat meningkatkan konsentrasi dan meningkatkan memori. Selama studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Kesadaran dan Kognisi, psikolog memperbantukan 16 relawan yang merupakan pecinta musik rock. Seluruh relawan tersebut kemudian menjalani tes memori sederhana selama empat kali. Pertama-tama mendengarkan musik klasik, mendengarkan rock, mendengarkan musik statis, dan terakhir mendengar keheningan. Peserta penelitian menunjukkan peningkatan konsentrasi dan memori ketika jenis musik kedua dimainkan sehingga mereka dalam menyelesaikan tes dengan sukses.

Terapis musik Kimberly Sena Moore mengatakan, tidak mengherankan jika pengemar musik rock memiliki kesehatan yang lebih baik. Itu dikarenakan mereka selalu mendengar musik tersebut sebagai latar belakang aktivitas yang dilakukannya.

“Mungkin karena mereka menempatkan musik mereka dalam suasana hati yang santai dan bahagia. Tapi kita masih tidak tahu apakah itu  benar,” katanya.

Namun, Sena More memperingatkan terhadap penyetelan musik yang terlalu panjang dan terlalu sering.

“Sel-sel rambut di koklea yang ada di telinga bagian dalam sangat sensitif akan musik. Jadi, apakah itu mendengarkan musik di rumah atau melalui HP, ternyata dapat merusak dan menyebabkan gangguan pendengaran atau tinnitus di kemudian hari,” jelasnya.

Menikmati happy hour

Menurut penelitian terbaru yang tersaji dalam jurnal tahunan American Association, minum dalam kadar sedang (satu gelas sehari untuk wanita dan dua gelas sehari untuk pria) mungkin lebih baik untuk kesehatan daripada tidak minum sama sekali. Para peneliti di Italia menemukan pasien pria yang  mengidap jantung masih melakukan aktivitas minum lima sampai 30 gram alkohol per hari justru memiliki kemungkinan 25 persen lebih kecil menderita serangan jantung atau stroke dibanding dengan pria yang menerapkan gaya hidup bebas meminum minuman keras.

Namun, pasien dengan masalah ventrikel yang minum minuman empat atau lebih dalam sehari memiliki masalah kesehatan tambahan. Adapun wanita, dalam penelitan terpisah yang ditinjau oleh Nurses 'Health Study menyimpulkan, wanita yang minum antara satu dan 15 gram alkohol sehari (sekira satu minuman) memiliki risiko 20 persen lebih rendah terkena stroke dibandingkan dengan wanita yang tidak minum sama sekali.

Pakar diet Julia Zumpano Renee yang bekerja dalam Departemen Preventif Kardiologi dan Rehabilitasi di Klinik Cleveland mengatakan, kesehatan pun perlu dilakukan dengan tetap menjaga jumlah kalori pada kebiasaan minum yang dilakukan seseorang.

“Saya menyarankan minum bir ringan, anggur kering atau minuman yang dicampur dengan satu sampai 1,5 ons minuman bebas kalori, seperti tonik diet atau soda dan jus ringan di mana masing-masing minuman tersebut biasanya mengandung 100 kalori per minuman,” tutupnya.







Perawatan Yang Dilakukan Para Remaja


Perawatan Yang Dilakukan Para Remaja


Banyak wanita melakukan segala jenis perawatan untuk kulit tampak lebih cantik. Banyak juga yang hanya melakukan perawatan kulit sederhana dengan rajin membersihkannya dan menggunakan pelembab.

Namun, semua usaha dapat percuma jika tetap melakukan kebiasaan buruk yang merusak kulit. Jika berhasil menghindari sejumlah 'pantangan' kecantikan berikut, Anda tidak perlu melakukan perawatan mahal. Berikut hal-hal yang tidak boleh Anda lakukan untuk menjaga kecantikan kulit, seperti dikutip dari laman Idiva.

1. Membersikan wajah dengan air panas
Jika tubuh terasa capai, kucuran air panas akan menjadi obat mujarab. Namun jangan salah, kucuran air panas pada wajah dapat merusak kelembutan kulit wajah. "Jika kulit Anda sangat rentan kemerahan, panas dapat melepahkan kapiler kulit dan membuatnya lebih parah," ujar Shula Starkey, penemu Ark Skincare.

Dr. Jamuna Pai, ahli kecantikan juga menyarankan untuk tidak menggunakan air panas pada kulit wajah dan kepala. "Kulit akan kehilangan minyak esensial jika menggunakan air panas," ujarnya.

2. Stres
Stres tidak hanya memberikan dampak negatif pada kesehatan, tetapi juga merugikan kulit Anda. Cobalah yoga dan bernapas dalam-dalam, serta gunakan produk kecantikan untuk menghilangkan tekanan pada kulit.

"Hormon stres, kortisol adalah musuh terburuk bagi penuaan kulit. Hindari kopi dan alkohol karena zat tersebut dapat meningkatkan kortisol," ujar Starkey.

3. Gunakan pembersih wajah instan
Banyak beredar di pasaran produk pembersih wajah yang sangat instan. Namun, tidak ada yang menjamin produk tersebut dapat membersihkan kulit hingga di sela-sela pori-pori. Pembersihan yang tidak memadai dapat menyebabkan penumpukan bakteri dan rusaknya kulit.

"Membersihkan kulit adalah sangat penting dan tidak boleh diabaikan. Gunakan make up remover jika Anda menggunakan make up. Jangan mengganti make up remover dengan pembersih biasa," ujar Dermatolog Dr Apratim Goel.

4. Diet sembarangan
"Jenis makanan yang dikonsumsi akan menurunkan kualitas kulit," ujar Deepshikha Agarwal, ahli diet dan gizi. Diet ketat yang rendah lemak dapat membuat kulit kusam dan memicu penuaan dini.
Padahal, lemak sangat penting untuk kesehatan kulit, memperbaikinya, pelembab alami, dan menjaga kekenyalan kulit. Asam lemak esensial dari minyak ikan, telur, sayuran hijau sangat penting untuk kulit.

5. Gemar konsumsi camilan manis
Terlalu banyak gula dalam aliran darah dapat memperlebar pinggang Anda. Selain itu, gula menyebabkan keriput pada wajah. "Glikasi adalah proses di mana gula dalam darah bereaksi dalam kolagen kulit dan merubah struktur kekenyalan kulit, serta mengakibatkan penuaan dini,"
ujar ahli gizi Melanie Flower.

Proses ini berjalan cepat bagi orang yang memiliki sedikit insulin. "Makanan ringan kaya protein adalah pilihan terbaik terutama kacang-kacangan dan biji-bijian karena mengandung minyak yang ramah pada kulit," ujarnya.

6. Tidak menggunakan pelindung matahari
Jika hanya menggunakan pelembab yang mengandung SPF di waktu matahari bersinar terik, Anda tidak melakukan perlindungan yang cukup. "Sangat penting menggunakan pelembab yang mengandung SPF setiap hari tanpa terkecuali. Gunakan SPF 30 atau lebih," ujar ahli kecantikan Ritu Tanwar.

7. Mengabaikan kulit leher
"Anda harus melakukan perawatan pada leher sama seperti merawat kulit wajah," ujar Dermatolog Dr. Stefanie Williams. Jadi, gunakan produk kecantikan dari wajah hingga leher. Selain itu, gunakan serum antioksidan sebelum pelembab SPF setiap hari.

8. Tidak melindunginya dari polusi
Polusi seperti asap rokok, asap kendaraan bermotor dapat menyebabkan kerusakan pada kulit. "Polutan juga dapat mebuat kulit lebih sensitif terhadap efek berbahaya sinar UV," ujar Williams.

9. Konsumsi alkohol
Alkohol dapat melebarkan pembuluh kapiler. Makin lama, alkohol dapat merusak pembuluh darah dan menyebabkan wajah memerah, menguras vitamin A antioksidan yang penting untuk elastisitas kulit, membuat kulit kering sehingga rentan terhadap kerutan. Minumlah banyak air putih untuk mendorong racun keluar dari tubuh. Hindari juga minum dengan menggunakan sedotan, karena hal tersebut dapat mengakibatkan keriput di sekitar mulut.

10. Tidak cukup tidur
Regenerasi sel kulit terjadi pada malam hari. Karena itulah pastikan Anda mendapatkan tidur cukup selama 8 jam. "Penelitian menunjukan kurang tidur dapat meningkatkan kadar kortisol yang dapat menyebabkan penuaan, berkurangnya produksi kolagen," ujar Williams. Selama tidur pun kulit menyerap produk kecantikan lebih baik. Gunakan krim malam Anda sebelum tidur untuk hasil maksimal.



Kebiasaan Remaja Mengkonsumsi Minumn Berkafein

Kebiasaan Remaja Mengkonsumsi Minumn Berkafein


Masalahnya, tak hanya kopi, kini remaja juga gemar konsumsi minuman berkafein lainnya, seperti minuman bersoda dan minuman berenergi.

Persentase remaja mengonsumsi minuman berkafein telah meningkat secara dramatis dalam beberapa tahun terakhir. Data pada 2006 mengungkapkan, remaja dan dewasa muda menghabiskan hampir US$2,3 miliar untuk minuman berkafein selama setahun. Dan pada 2007, National Coffee Association menemukan, 31 persen remaja mengkonsumsi kopi.

Namun yang jadi pertanyaan, apakah minuman berkafein berdampak buruk jika dikonsumsi remaja yang masih dalam masa pertumbuhan?

Para ahli gizi merasa khawatir, tentang kebiasaan remaja mengonsumsi minuman berkafein. Tidak sedikit remaja masa kini yang menggantikan makanan dengan minuman berkafein tanpa menyadari kandungan kalori tinggi dalam minuman mereka.

Efek buruk minuman berkafein, menurut pakar kesehatan dapat menyebabkan kecemasan dan insomnia. Tetapi, yang paling berbahaya karena minuman ini bersifat adiktif. Seperti dikutip dari laman The Washington Post, yang mencemaskan, kecanduan ini lebih rentan dialami remaja.

Apalagi, para remaja saat ini kurang memahami isi kandungan dalam minuman yang mereka konsumsi. Sehingga mereka bisa mengonsumsi minuman ini dalam porsi berlebih, yang pada akhirnya bisa membahayakan kesehatan.












Kebiasaan Buruk Setelah Putus Cinta


Kebiasaan Buruk Setelah Putus Cinta

PUNYA kebiasaan buruk yang muncul setelah berpisah dengan si dia dan ingin sekali Anda buang jauh? Ternyata, solusinya lebih sederhana dari yang Anda bayangkan.

Tidak peduli apapun kebiasaan buruk tersebut, Anda harus memiliki beberapa hal untuk menghilangkannya. Kuncinya adalah memelihara sikap positif, pengendalian diri, dan tekad yang kuat.

Empat kebiasan buruk di mana sebagian orang terjebak di dalamnya ketika putus cinta, berikut seperti dilansir BounceBack:

Minum alkohol atau makan berlebihan

Ini semua tentang kontrol diri dan menjaga diri Anda tetap sibuk. Lakukan aktivitas yang Anda minati; menjadi relawan, olahraga, atau hang out dengan teman (tanpa alkohol). Intinya, jaga pikiran Anda tetap sibuk.

Ketika sendirian dan bosan, otak Anda lebih cenderung mengingat perpisahan. Ini hanya akan menggiring Anda untuk terus minum atau makan, sebuah solusi (bila Anda menganggapnya demikian) yang tidak akan memecahkan apa-apa. Minum alkohol bisa menjadi masalah serius, jadi tendang kebiasaan itu sebelum Anda semakin jauh terjebak.

Kurang nafsu makan

Mungkin Anda tidak sadar diri semakin tidak nafsu makan, tapi nafsu makan akan semakin hilang bila Anda hanya terpaku pada luka putus cinta. Anda harus membersihkan pikiran. Ambil napas dalam-dalam. Fokus pada hal-hal yang membuat Anda bahagia.

Kelilingi diri dengan hal-hal dan orang-orang yang Anda cintai dan menjauhi pikiran dari putus cinta sebanyak mungkin. Anda perlu meringankan tubuh dari tekanan agar nafsu makan bisa kembali. Merampas hak tubuh dari nutrisi yang dibutuhkannya bisa sangat berbahaya. Jadi, penting untuk menaklukkan masalah ini segera.

Terobsesi dengan mantan kekasih

Setiap kesempatan yang Anda dapatkan, Anda selalu bicara tentang mantan kekasih; hal baik, buruk, dan segala sesuatu tentangnya. Anda tidak bisa berhenti berpikir atau berbicara tentang kisah hubungan yang telah berlalu. Anda fokus pada kebahagiaan yang sudah lepas dari tangan, bukannya meraih kebahagiaan lain di depan sana.

Obsesi semacam ini akan mempersulit proses perbaikan luka hati dan menuntun Anda untuk melakukan kebiasaan buruk lainnya. Orang lain mungkin enggan bergaul dengan Anda, bukan karena mereka tidak peduli tapi lebih karena mereka tidak mau mendengar cerita tentang mantan Anda.

Anda harus menilik kembali apa yang Anda katakan dan pikirkan. Cobalah bermeditasi. Mungkin terdengar aneh, tapi menghabiskan beberapa menit sehari untuk membersihkan kepala Anda dari pikiran buruk itu benar-benar dapat membantu.

Segera menjalin hubungan baru

Berharap bisa menyembuhkan hati Anda dengan seseorang yang baru? Metode ini sering tidak efektif dan mungkin berakhir dengan menyakiti orang lain.

Ada beberapa alasan kita segera memasuki hubungan baru setelah putus cinta, salah satunya kita ingin merasa baik tentang diri sendiri. Sebuah perpisahan dapat memberikan kerusakan serius pada harga diri dan menemukan seseorang yang baru untuk menyayangi Anda diharapkan bisa memperbaiki masalah untuk sementara waktu.

Atau mungkin kita ingin membuktikan kepada mantan kekasih bahwa kita masih diinginkan, bahwa kita dapat segera move on. Jika Anda tidak membiarkan diri cukup waktu untuk menyembuhkan luka hati, Anda tidak akan benar-benar bangkit kembali. Anda akan makin menekan emosi bila tidak bisa berdamai dengan luka patah hati.








Kebiasaan Buruk Tak Selamanya Berdampak negatif


Kebiasaan Buruk Tak Selamanya Berdampak negatif

 Memiliki kebiasaan buruk tak selamanya berdampak negatif. Beberapa di antaranya ternyata bermanfaat bagi kondisi fisik dan psikis Anda. Tak percaya?

Tengok saja tiga fakta soal kebiasaan buruk yang dilakukan banyak orang berikut. Ketahui manfaatnya, mungkin saja salah satunya merupakan kebiasaan buruk Anda yang tak perlu dihentikan.

1. Minum kopi gelas besar di pagi hari

Sarapan Anda setiap pagi adalah secangkir kopi? Mengonsumsi minuman ini memang bisa memicu maag. Tapi, dengan mengonsumsinya di pagi hari bisa membuat kondisi perasaan jadi lebih baik dan lebih bersemangat.

Penelitian yang dipublikasi dalam Archives of Internal Medicine menunjukkan, wanita yang minum dua hingga gelas kopi setiap harisi, risiko mengalami depresi bisa berkurang hingga 15 persen. "Kandungan kafein dalam kopi membantu mengaktifkan zat kimia pada otak yang membuat perasaan lebih bersemangat, yaitu dopamin dan serotonin," kata Alberto Ascherio, profesor epdemiologi dan nutrisi Harvard School of Public Health, seperti dikutip dari Woman's Day.

2. Berpikir negatif

Tak ada salahnya untuk sesekali memiliki sudut pandang negatif terhadap suatu hal. Kadang, hal ini membuat Anda justru lebih realistis dan lebih siap dalam menghadapi kondisi terburuk.

Faktanya, menurut penelitian yang dipublikasi dalam Journal of Personality and Social Psychology, level kebahagiaan jangka panjang justru akan berkurang jika Anda selalu berpikir kalau semuanya akan baik-baik saja.

"Menjadi realistis membuat orang berusaha jadi lebih baik, ini membantu mengurangi stres dan kesedihan," kata Erin O'Mara, PhD, asisten profesor di University of Dayton.

Memaksa diri untuk tetap berpikir positif, sebenarnya menekan perasaan khawatir dan emosi lain yang tak sehat bagi kondisi psikologis Anda. Mengubah sudut pandang mungkin bisa Anda lakukan.

Misalnya, saat Anda dan pasangan memiliki utang, lebih baik mengungkapkan "Baiklah, kita memiliki utang, apa hal yang pertama harus dilakukan untuk melunasinya?" daripada "Tenang saja, kita pasti bisa melunasinya". Latih diri Anda untuk mengubah pikiran negatif menjadi bahan analisis agar lebih realistis.

3. Tak bisa menahan emosi

"Amarah sebenarnya emosi positif yang sering kali salah dimengerti. Ini memotivasi Anda untuk melakukan aksi untuk mengatasi situasi yang buruk," kata Mary Lamia, PhD, seorang psikolog klinis.

Jangan takut menunjukan emosi, baik saat marah, sedih atau kecewa. Tapi, usahakan untuk menyediakan waktu menenangkan diri sebelum bereaksi. Menurut Dr. Lamia, hal ini memberi Anda waktu untuk berpikir.