Tampilkan postingan dengan label REMAJA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REMAJA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Mei 2012

PEMUDA BERPRESTASI DALAM BALUTAN CINTA ROBB-NYA


PEMUDA BERPRESTASI DALAM BALUTAN CINTA ROBB-NYA


“(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdo’a: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”, (TQS.        18:10). 

Sebuah inspirasi dari Al Quranul Karim, bahwasannya dalam kisah askhabul kahfi yang berdoa kepada RabbNya untuk diberikan rahmat serta petunjuk untuk menjalankan urusan-urusan dunia dan akhirat nanti sehingga ika saatnya tiba dapat mempertanggungjawabkannya dengan baik. Dialah pemuda inspirator, dimana dalam setiap rusuk-rusuknya terbakar semangat yang membaja.
<<>>
Di zaman ini pemuda adalah tulang punggung negara. Dipundaknya terdapat beban berat yang tidak semua orang mampu untuk memikulnya. Di setiap sendinya mengalir semangat untuk persatuan dan kesatuan bangsa, menjaga keutuhan negeri yang penuh cinta ini. Bhineka Tunggal Ika, menjadikan kita untuk senantiasa berfikir dan terus menggali potensi, bahwa walaupun kita berbeda kita tetap satu, satu falsafah (pandangan hidup), yakni Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pemuda adalah titisan sang bagaskara yang menyengatkan bumi. Setiap kehangataanya mampu memberikan keteduhan untuk berfikir yang jernih serta dan belaian cinta untuk negeri. Pemuda memberikan pesona di setiap langkah-langkahnya yang membahana. Bersamanya jiwa-jiwa kami mendapatkan sokongan punggung-punggung yang kokoh nan kuat. Setiap sisi linier ada balutan semangat membaja sang pemuda inspiratr bangsa. Pemuda harapan bangsa-lah yang mampu menjawab tantangan bangsa ke depan. Pemuda generasi terbaik di setiap masa, itu KITA.

Tantangan     bangsa            ?

Tantangan bangsa ke depan sangatlah kompleks, tidak lagi seputar regional namun juga meluas hingga hubungan dengan negara-negara di sekitar. Kita sebagai pemuda harus siap untuk mengantisipasi perubahan-perubahan yang sangat cepat di era globalisasi ini. Pemuda adalah sosok masa depan, karena nasib bangsa ke depan berada dalam genggaman eratnya. Pemuda sebagia cerminan kemajuan bangsa haruslah bisa menjadi teladan baik itu di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, politik maupun dibidang-bidang         yang    lain.

Pemuda harus bisa merangkul semua aspek yang menjadikan bangsa ini lebih berkarakter. Berbicara tentang bangsa yang berkarakter, menurut penulis, bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang cerdas, bermoral, bermartabat, brakhlak mulia, serta memegang teguh agamanya. Karena bagaimanapun agama-lah yang akan membentuk karakteristik dari diri pemuda itu sendiri.

Bagaimanakah           caranya           ?

Yang pertama, menjadikan pembangunan berkarakter bagi pemuda bangsa sebagai prioritas utama, baik melalui pendidikan formal, pendidikan politik, maupun pendidikan formal yang lain. Menurut Undang-Undang Kepemudaan pasal 3, “Tujuan pembangunan pemuda adalah untuk mewujudkan pemuda yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cerdas, kreatif, inovatif, mandiri, demokratis, bertanggung jawab, berdaya saing, serta memiliki jiwa kepemimpinan, kewirausahaan, dan kepeloporan”. Dari tujuan ini dapat kita lihat dengan keteladanan bahwa pendidikan melalui penanaman nila-nilai moral dan agama, pengembangan jiwa sosial, apresiasi terhadap kebudayaan, tindakan kearifan lokal melalui tindakan-tindakan yang militan, serta hal-hal lain yang sangat memegang peranan penting dalam pembangunan pemuda berkarakter. Karena sekali lagi pembentukan ruh-ruh pemuda yang penuh dengan inspirasi dan motivasi untuk senantiasa memperbaiki kehidupan bangsa merupakan tolak ukurnya.

Kemudian yang kedua adalah dengan mengadakan perubahan serta pendekatan baru dalam program kepemudaan. Dalam hal ini menurut Berger pada tahun 1994 di sebuah bukunya menjelaskan bahwa ada 4 faktor penting dalam konteks perubahan itu, yakni strategi, implementasi/operasi, budaya, serta yang terakhir adalah system imbalan          (reward           system).

Strategi merupakan perencanaan, dimana ketika kita ingin menggapai sesutau kita harus mempunyai perencanaan yang baik, terkonsep dengan matang, serta struktur perencanaan yang jelas. “I we fail to plan, we plan to fail” maksudnya sebesar apapun cita-cita untuk kemajuan bangsa ini dengan memaksimalkan peran pemuda, namun jika kita tak pandai-pandai untuk merencanakan, mengkonsep dengan matang maka hasilnya pun tidak akan maksimal. Semua akan tetap berjalan, namun akan ada beberapa disana-sini yang seperti terdapat lubang, sehingga hal ini suatu      saat     akan    menggembosi semangat        kita.

Impementasi/operasi, merupakan langkah realistis yang nyata. Setelah kita mampu untuk merencanakan dengan baik kemudian kita mencoba untuk menjalankan apa yang telah kita konsepkan tadi dengan ikhtiar yang maksimal. Sesungguhnya Alloh sangat memperhatikan proses perubahan hambaNya. Mungkin hal ini yang menjad motivasi kita untuk senantiasa menjaga perbuatan kita. Amar ma’ruf nahi mungkar. Berbuatlah yang baik selama nafas ini masih menggantung di tenggoroka kita. Petrhatika setiap proes kita agar proses kita menjadi pemuda yang mampu menjawab tantangan bangsa senantiasa bersih dal Allah ridhi.

Budaya, merupakan bagian setiap adat istiadat yang ada pada suatu negeri. Budaya merupak seni yang terbentuk karena kebiadaan. Oleh karena itu marilah kita menjadikan setiap kebiasaan kita menjadi kebiadaab yang baik, indah, serta santun. Karena budaya pemuda menjadi identitas bagi negerinya.

Yang terakhir adalah sistem imbalan (reward system), dimana setiap prestasi harus diberikan penghargaan agar prestasi itu menjadi semakin kuat, berkembang, dan mampu menjadi motivasi orang-orang di sekitar. Baik itu birokrat, pemerintah, masyarakat, serta komponen-komponen yang menjadikan prestasi ini menjadi inovasi dan motivasi. Imbalan tidak harus berupa nominal yang besar, namun perhatian serta upaya pengembangan terhadap bidang yang mampu berprestasi itu sangat       penting.

Oleh karena itu dimanapun posisi kita sekarang berada, marilah kita kembangkan setiap lini yang ada di sekitar kita. Jadilah pemuda berprestasi sebagai harapan bangsa. Karena sesungguhnya janganlah meragu untuk terus bergerak, untuk terus berprestasi.

Pendidikan Pada Masa Remaja


Pendidikan Pada Masa Remaja
Setiap manusia mengalami fase-fase tertentu dalam hidupnya, seperti pada masa bayi, fase anak-anak, fase remaja, fase dewasa, dan fase lanjut usia. Namun, yang sering mengalami pencarian makna hidup berada pada fase remaja. Pada suatu periode dalam masa perkembangan yang merupakan fokus yang menarik untuk dikaji adalah remaja. Sebab pada masa ini, individu remaja mengalami masa penyesuaian diri dengan lingkungan yang ada disekitarnya, khususnya dengan tatanan norma, nilai, adat, dan etika yang berlaku di masyarakat. Masa remaja merupakan masa penghubung atau masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Masa remaja termasuk juga masa yang indah dan terkadang kita mendengar slogan “Indahnya Masa Remaja”, tapi jangan lupa masa ini juga merupakan masa yang menentukan, di mana anak banyak mengalami perubahan fisik dan psikis.
Pada masa perkembangan ini, remaja mulai menuntut untuk diberi kesempatan mengemukakan pendapatnya sendiri, suka mencetuskan perasaannya, jika dianggap perlu remaja tersebut memberontak karena dia merasa bahwa dirinya bukan anak-anak lagi, dan mengapa belum diakui kedewasaannya hingga mengakibatkan kegelisahan di dalam dirinya, kurang tenang dengan keadaan lingkungan. Biasanya remaja memiliki yang dikaguminya, namun sikapnya tidak selalu negatif. Remaja juga sangat tertarik kepada kelompok sebaya, mencari perhatian di dalam lingkungannya, emosi yang meluap-luap, serta pertumbuhan fisik mengalami perubahan yang pesat. Di sisi lain, kehidupan remaja sangat kompleks dengan berbagai kreatifitas dan keinginan untuk mencoba segala yang ada di sekitarnya, baik dalam bidang pergaulan maupun intelektual. Olehnya itu dibutuhkan suatu wadah agar bakat, minat serta keinginan berprestasi dapat diwujudkan.
Pendidikan yang merupakan usaha sadar dan dilakukan oleh orang dewasa(pendidik) dengan berencana, terprogram dan terkendali untuk menyiapkan individu melalui kegiatan bimbingan pengajaran atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Dengan  pendidikan itulah, individu remaja mengaktualisasikan potensi-potensi yang dimilikinya melalui alat atau media pendidikan hingga peserta didik (remaja) mampu menemukan aktivitasnya sendiri serta dapat mengalami perubahan positif dalam aspek kepribadiannya yang menyangkut tri domain yaitu, perubahan kognitif, afektif, dan psikomotor.
A. Fungsi-fungsi Pada Sistem Pendidikan
Beberapa penelitian menunjukkan titik berat dari peranan sekolah yang mengembangkan interpersonal remaja dalam mencapai pegetahuan, keterampilan, dan pewarisan budaya. Berdasarkan penelitian itu tampak bahwa terdapat sebuah sekolah tingkat pertama di desa yang mengatur 100 sampai 2000 siswa. Coleman (1961) menemukan bahwa sekolah belum menyelesaikan atau membentuk popularitas tertentu. Sebuah contoh, hanya 31% pelajar putri dicari menjadi kelompok pelajar istimewa tapi 45% dicari mengingat sebagian jadi atlet, dan umumnya 28% laki-laki sebagai pelajar istimewa mengingat kekurangan mereka, tapi 72% kekurangannya dipanggil kembali pada biasanya. Smilarly Snyder (1972) menemukan bahwa umumnya sekolah lanjutan tingkat pertama paling penting menyeleksi kriteria antara laki-laki dan perempuan untuk memberikan penghargaan dan status yang membawa kualitas individu. Berikutnya yang paling penting, memiliki materi, aktivitas sosial, dan olahraga. Prestasi sekolah melihat kualitas dan rangking mereka.
Selain itu, Johnston and Bachman (1976) dalam suatu penelitian pada sebuah negara kemungkinan sampel 2100 guru sekolah menemukan bahwa baik guru maupun peserta didik hampir semuanya berpendapat, dimanakah letak fungsi sebenarnya sekolah menengah. Group-group percaya bahwa olahraga telah memberi tempat dan titik berat pada sekolah mereka. Fungsinya kurang lebih memberikan keterampilan dan menitikberatkan pada pewarisan budaya, norma dan nilai.
Bagaimanapun juga data yang dilaporkan oleh Johnston dan Bachman serta peneliti lainnya ada indikasi yang paling mendasar untuk fungsi-fungsi terakhir. Frieson (1968) meneliti tentang 15.000 pelajar pada 19 sekolah di Kanada.  Dia menemukan bahwa pelajar yang kelihatan atletik dan populer dan yang lebih penting untuk mempersoalkan fungsi kesuksesan. Tetapi mereka yakin sekolah yang berprestasi lebih mementingkan fungsi kesuksesan untuk masa depan dibandingkan dengan yang lainnya. Tambahan lain melihat memperoleh keterampilan untuk masa depan dan peranan sebagai perpindahan budaya, data dari Johnston dan Bachman (1976) mendukung fungsi pokok dan menjadikan dengan menitikberatkan sekolah masa depan sebagai harapan remaja yang terakhir. Selain olahraga, guru dan pelajar sepakat bahwa peningkatan motivasi dan keinginan belajar merupakan fungsi yang paling umum daripada isu tentang prestasi sekolah sebagai prioritas utama.
Beberapa sekolah negeri  sebagai sampel, ada kendala besar dalam memperoleh keterampilan dan fungsi kewarisan budaya. Hadden (1969)mencatat bahwa  45% siswa yang belajar melihat sekolah sebagai sebuah  harapan atau simbol kehancuran dunia “ sedangkan Rewer mencatat dari 25% apa yang mereka telah pelajari kebodohan, kegagalan dan kehilangan jati diri. Fungsi-fungsi itu lebih menambah tekanan individu dan interpersonal. Hanya 2/3 sampel setuju bahwa “sekolah telah merubah seluruh pandangan saya sendiri”.
Kelihatannya semua peranan pendidikan menyebutkan bahwa diakui siswa merupakan aspek paling penting dalam pendidikan, bagaimanapun juga data dari sampel sebuah negara, atas pelajar menunjukkan 75% percaya bahwa sekolah mampu memberikan sebuah pekerjaan yang istemewa pada peserta didik.
Sekolah menjalankan beberapa fungsi, paradigma tentang berbagai fungsi pendidikan telah dipikirkan oleh berbagai ahli perkembangan remaja.Ausubel Montemayor dan Svajian (1977) melihat bahwasanya dasar dari pendidikan adalah sebuah alat untuk mengabadikan dan mewariskan kebudayaan serta mampu memberikan atau menambah wawasan tentang hidup. Sekolah juga merupakan salah satu cara untuk memindahkan dan mendapatkan dasar-dasar ilmu pengetahuan. Mecandless (1970)mengungkapkan bahwa sekolah seharusnya berfungsi untuk memberikan keterampilan dan mewariskan budaya ilmu pengetahuan dan nilai. Bagaimanapun dia percaya sekurang-kurangnya sekolah memiliki fungsi umum sebagai sebuah aktualisasi. Mecandless yakin bahwa sistem pendidikan menciptakan sebuah latar belakang di mana remaja dapat bahagia dan tertantang. Sekolah adalah sebuah tempat atau lembaga untuk mengembangkan pribadi secara optimal, memaksimalkan identitas diri individu serta individu mampu berbakti pada masyarakatnya.
Sekurang-kurangnya terdapat berbagai fungsi sekolah pada “personal” dan “interpersonal” yang kita kenal. Ausubel (1977) di mana sekolah adalah sebuah tempat yang menggambarkan sebuah konteks interaksi sosial dan mengembangkan kebersamaan. Meskipun remaja diberikan kebebasan dari orang tua. Sekolah bagi remaja adalah sebuah kesempatan untuk menemukan status atau identitas sosialnya. Mungkin kita sepakat dengan murid sekolah yang mampu menunjukkan prestasi di luar kurikulum dengan menempatkan pada kelas khusus atau kegiatan ekstrakurikuler atau pula aktivitas organisasi di sekolah, misalnya club-club olahraga. Pendidikan dan latihan yang didapatkan di luar sekolah makin patut diberikan untuk status sosialnya di masa depan.
B. Karakteristik Pendidikan Selama Masa Remaja
Proses belajar akan berhasil apabila sesuai dengan minat dan kebutuhan bagi seorang individu. Cita-cita tentang jenis pekerjaan di masa yang akan datang merupakan faktor penting yang mempengaruhi minat dan kebutuhan bagi remaja untuk belajar. Olehnya itu, remaja secara sadar telah mengetahui pula bahwa untuk mencapai jenis pekerjaan yang diidamkan itu memerlukan saran pengetahuan dan keterampilan tertentu yang harus dimiliki. Hal inilah yang membimbing remaja menentukan pilihan jenis pendidikan yang akan diikuti.
Remaja pada usia 13-14 tahun atau pada usia awal remaja (pre-adolescence) di mana jenjang pendidikan berada pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP, mereka mulai mengenal sistem baru dalam sekolah. Misalnya, perkenalan dengan banyak guru yang memiliki berbagai macam sifat dan kepribadian. Hal ini menunjukkan perlunya kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi yang beragam. Begitu pula anak mulai mengenal berbagai mata pelajaran yang harus dipelajari dengan berbagai karakteristiknya. Di SLTP belum ada masalah pemilihan jurusan, tetapi untuk tingkat SLTA yaitu saat anak berusia sekitar 15-18 tahun, pemilihan jurusan itu telah pula diperkenalkan.
Di samping pengenalan terhadap sistem pendidikan, para remaja tersebut juga memiliki teman sejawat yang semakin luaslingkungannya dan ia mulai mengenal anak lain dengan berbagai macam latar belakang keadaan keluarga. Dengan kata lain, remaja mengenal dan memiliki masyarakat baru yang merupakan masyarakat sekolah atau teman sebaya. Dengan  demikian, mereka memiliki tiga lingkungan pendidikan yang pola dan karakteristiknya berbeda-beda. Remaja memiliki tiga lingkungan kehidupan, yang ketiga-tiganya mempunyai corak yang berbeda serta masing-masing memikul tanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan. Mengingat hal itu, maka setiap remaja berada pada posisi pendidikan yang majemuk, mereka berada di lingkungan kehidupan pendidikan keluarga, kehidupan pendidikan masyarakat, dan kehidupan pendidikan sekolah yang diikutinya. Yang mana dari masing-masing lingkungan kehidupan pendidikan itu tidak selalu sama dasar dan tujuannya. Oleh karena itu, remaja seperti “ditantang” untuk mampu mengatasi problema keanekaragaman tersebut dan mampu menempatkan dirinya dengan tepat dan harmonis.
1. Lingkungan Pendidikan di Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama bagi anak-anak dan remaja. Pendidikan keluarga lebih menekankan pada aspek moral atau pembentukan kepribadian daripada pendidikan untuk menguasai ilmu pengetahuan. Dasar dan tujuan penyelenggaraan pendidikan keluarga bersifat indiviual yang sesuai dengan pandangan hidup pada masing-masing keluarga, sekalipun secara nasional bagi keluarga-keluarga bangsa indonesia memiliki dasar yang sama, yaitu Pancasila. Ada keluarga yang dalam mendidik anaknya mendasarkan pada kaidah-kaidah agama dan menekankan proses pendidikan pada pendidikan agama dengan tujuan untuk menjadikan anak-anaknya menjadi orang yang saleh dan senantiasa takwa dan iman kepada Tuhan Yang maha Esa. Ada pula keluarga yang dasar dan tujuan penyelenggaraan pendidikannya berorientasi kepada kehidupan sosial ekonomi kemasyarakatan dengan tujuan untuk menjadikan anak-anaknya menjadi orang yang produktif dan bermanfaat dalam kehidupan bemasyarakat.
Anak dan remaja di dalam keluarga berkedudukan sebagai anak didik dan orang tua sebagai pendidiknya. Secara garis besar corak dan pola pada penyelenggaraan pendidikan keluarga dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu;  pendidikan otoriter, pendidikan demokratis, dan pendidikan liberal. Berkaitan dengan itu, pendidikan yang bercorak otoriter memberikan kesan di mana anak-anak senantiasa harus mengikuti apa yang telah digariskan oleh orang tuanya, sedang pada pendidikan yang bercorak liberal, anak-anak lebih cenderung diberikan kebebasan oleh orang tuanya untuk menentukan tujuan dan cita-citanya. Dari beberapa pola pendidikan itu, diketahui bahwa kebanyakan keluarga di Indonesia mengikuti corak pendidikan yang demokratis. Selanjutnya,  makna pendidikan yang demokratis itu oleh Ki Hadjar Dewantara dinyatakan bahwa penyelenggaraan pendidikan itu hendaknya ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, yang artinya : di depan memberi contoh, di tengah membimbing, dan di belakang memberi semangat.
2. Lingkungan Pendidikan di Masyarakat
masyarakat merupakan lingkungan alami kedua yang dikenal anak-anak. Anak remaja telah banyak mengenal karakteristik masyarakat dengan berbagai norma dan keragamannya. Kondisi masyarakat amat beragam, tentu banyak hal yang harus diperhatikan dan diikuti oleh anggota masyarakat, dan dengan demikian para remaja perlu memahami hal itu.  Sehubungan dengan itu, maka tidak jarang para remaja memiliki perbedaan pandangan dengan para orang tua, sehingga norma dan perilaku remaja dianggap tidak sesuai dengan norma masyarakat yang sedang berlaku. Hal ini tentu saja akan berdampak pada pembentukan pribadi remaja. Perbedaan ini dapat mendorong para remaja untuk membentuk kelompok-kelompok sebaya yang memiliki kesamaan pandangan.
Di balik itu di dalam masyarakat terdapat tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh kuat terhadap pola hidup masyarakatnya. Namun hal itu terkadang tidak mampu mempengaruhi kehidupan remaja, akibatnya para remaja kadang-kadang melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan ketentuan masyarakat, atau para remaja dengan sengaja menghindar dari aturan dan ketentuan masyarakat.
Dalam menjalankan fungsi pendidikan, masyarakat banyak membentuk atau mendirikan kelompok-kelompok atau paguyuban-paguyuban atau kursus-kursus yang secara sengaja disediakan untuk anak remaja dalam upaya mempersiapkan hidupnya dikemudian hari. Kursus-kursus yang dimaksud pada umumnya berorientasi  kepada dunia kerja. Namun, banyak kelompok kegiatan atau kursus-kursus yang dibangun masyarakat tersebut kurang menarik perhatian remaja; oleh para remaja apa yang disediakan itu dinilainya tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Kondisi semacam itu banyak merangsang pemikiran remaja yang responnya belum tentu positif. Banyak kelompok remaja yang membayangkan masa depannya suram dan mereka membentuk kelompok yang diberi nama “Madesu”.
3. Lingkungan Pendidikan di Sekolah
Sekolah merupakan lingkungan artifisial yang sengaja diciptakan untuk membina anak-anak ke arah tujuan tertentu, khususnya untuk memberikan kemampuan dan keterampilan sebagai bekal kehidupannya di kemudian hari. Bagi para remaja pendidikan jalur sekolah yang diikutinya adalah jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Di mata remaja sekolah dipandang sebagai lembaga yang cukup berpengaruh terhadap terbentuknya konsep yang berkenaan dengan nasib mereka di masa mendatang. Mereka menyadari jika prestasi atau hasil yang dicapaidi sekolah itu baik, maka hal itu akan membuka kemungkinan hidupnya di kemudian hari menjadi cerah, tetapi sebaliknya apabila prestasi yang dicapainya kurang baik, maka hal itu dapat berakibat pada gelapnya masa depan mereka. Kegagalan sekolah bagi remaja dipandang sebagai awal dari kegagalan hidupnya. Dengan demikian, sekolah dipandang banyak mempengaruhi kehidupannya. Oleh karena itu, remaja telah memikirkan benar-benar dalam memilih dan mendapatkan sekolah yang diperkirakan mampu memberikan peluang baik baginya dikemudian hari. Pandangan ini didasari oleh berbagai faktor, seperti faktor ekonomi, sosial, dan harga diri (status dalam masyarakat). Akan tetapi, dalam menentukan pilihan sekolah  masih banyak terjadi campur tangan orang tua yang terlalu besar. Hal itu sering membawa akibat kegagalan dalam pendidikan sekolah karena anak terpaksa mengikuti pelajaran yang tidak sesuai dengan pilihan dan minatnya.
Dunia pendidikan, baik jalur sekolah maupun jalur luar sekolah, menyediakan berbagai jenis program yang diperkirakan relevan dengan kebutuhan jenis tenaga kerja di masyarakat. Untuk menetapkan pilihan jenis pendidikan dan pekerjaan yang diidamkan banyak faktor yang harus dipertimbangkan yang meliputi :
1.           Faktor prediksi masa depan.
2.           Faktor prestasi yang menggambarkan bakat dan minat remaja.
3.           Faktor kehidupan yang dapat diamati dari kondisi beragamnya lapangan kerja di masyarakat.
4.           Kemampuan daya saing setiap individu.
C. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Pendidikan Pada Masa Remaja
a. Faktor Sosial Ekonomi
Kondisi sosial ekonomi keluarga banyak menentukan perkembangan kehidupan pendidikan dan karier anak. Kondisi sosial yang menggambarkan status orang tua merupakan faktor yang “dilihat” oleh anak untuk menentukan pilihan sekolah dan pekerjaan. Secara tidak langsung keberhasilan orang tua merupakan “beban” bagi anak, sehingga dalam menentukan pilihan pendidikan tersirat untuk ikut mempertahankan kedudukan orang tua. Di samping itu, secara eksplisit orang tua menyampaikan harapan hidup anaknya yang tercermin pada dorongan untuk memilih jenis sekolah atau pendidikan yang diidamkan oleh orang tua.
Faktor ekonomi mencakup kemampuan ekonomi orang tua dan kondisi ekonomi negara (masyarakat). Yang pertama merupakan kondisi utama karena menyangkut kemampuan orang tua dalam membiayai pendidikan anaknya. Banyak anak berkemampuan intelektual tinggi tidak dapat menikmati pendidikan yang baik disebabkan oleh keterbatasan kemampuan ekonomi orang tuanya.
b. Faktor Lingkungan
Pengaruh dari faktor lingkungan ini meliputi tiga macam. Pertama, lingkungan kehidupan masyarakat, seperti lingkungan masyarakat perindustrian, pertanian, atau lingkungan perdagangan. Dikenal pula lingkungan masyarakat akademik atau lingkungan di mana para anggota masyarakatnya pada umumnya terpelajar atau terdidik. Lingkungan kehidupan semacam itu akan membentuk sikap anak dalam menentukan pola kehidupan yang pada gilirannya akan mempengaruhi pemikiran remaja dalam menentukan jenis pendidikan dan karier yang diidamkan.
Kedua, lingkungan kehidupan rumah tangga di mana kondisi sekolah merupakan lingkungan yang langsung berpengaruh terhadap kehidupan pendidikan dan cita-cita karier remaja. Lembaga pendidikan atau sekolah yang baik mutunya, yang memelihara kedisiplinan cukup tinggi akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan sikap dan perilaku kehidupan pendidikan anak dan pola pikirnya dalam menghadapi karier.
Ketiga, lingkungan teman sebaya. Bahwa pergaulan teman sebaya akan memberikan pengaruh langsung terhadap kehidupan pendidikan masing-masing remaja. Lingkungan teman sebaya akan memberikan peluang bagi remaja (laki-laki atau wanita) untuk menjadi lebih matang. Di dalam kelompok sebaya seorang gadis berkesempatan untuk menjadi seorang wanita dan perjaka untuk menjadi seorang laki-laki serta belajar mandiri sesuai dengan kodratnya.
c. Faktor Pandangan Hidup
Pandangan hidup merupakan bagian yang terbentuk dari lingkungan. Pengejawantahan pandangan hidup tampak pada pendirian seseorang, terutama dalam menyatakan cita-cita hidup bagi remaja. Dalam memilih lembaga pendidikan, seorang individu dipengaruhi oleh kondisi keluarga yang melatarbelakangi. Remaja yang berasal dari kalangan keluarga kurang, umumnya bercita-cita untuk di kemudian hari menjadi orang yang berkecukupan (kaya), dan dengan demikian dalam memilih jenis pendidikan berorientasi kepada jenis pendidikan yang dapat mendatangkan banyak uang, misalnya; kedokteran, ekonomi, dan ahli teknik.
D. Implikasi Tugas-tugas Perkembangan Remaja Dalam Penyelenggaraan Pendidikan
Memperlihatkan banyaknya faktor kehidupan yang berada di lingkungan remaja, maka pemikiran tentang penyelenggaraan pendidikan juga harus memperhatikan faktor-faktor tersebut. Sekalipun dalam penyelenggaraan pendidikan diakui bahwa tidak mungkin memenuhi tuntutan dan harapan seluruh faktor yang berlaku tersebut. Berkaitan dengan hal itu, maka terdapat beberapa implikasi dari tugas-tugas perkembangan remaja dalam penyelenggaraan pendidikan yang meliputi ;
a. Pendidikan yang berlaku di Indonesia, baik pendidikan yang diselenggarakan di dalam sekolah maupun di luar sekolah, pada umumnya diselenggarakan dalam bentuk klasikal. Penyelenggaraan pendidikan klasikal ini berarti memberlakukan sama semua tindakan pendidikan kepada semua remaja yang tergabung di dalam kelas, sekalipun masing-masing diantara mereka sangat berbeda-beda. Pengakuan terhadap kemampuan setiap pribadi yang beraneka ragam itu menjadi kurang. Oleh karena itu, yang harus mendapatkan perhatian di dalam penyelenggaraan pendidikan adalah sifat-sifat dan kebutuhan umum remaja, seperti pengakuan akan kemampuannya, ingin untuk mendapatkan kepercayaan, kebebasan, dan semacamnya.
b. Beberapa usaha yang perlu dilakukan dalam penyelenggaraan pendidikan sehubungan dengan minat dan kemampuan remaja yang dikaitkan terhadap cita-cita kehidupannya antara lain adalah :
-Bimbingan karier dalam upaya mengarahkan siswa untuk menentukan  pilihan jenis pendidikan dan jenis pekerjaan sesuai dengan kemampuannya.
-Memberikan latihan-latihan praktis terhadap siswa dengan berorientasi kepada kondisi (tuntutan) lingkungan.
-Penyusunan kurikulum yang komprehensif dengan mengembangkan kurikulum muatan lokal.
c. Keberhasilan dalam memilih pasangan hidup untuk membentuk keluarga banyak ditentukan oleh pengalaman dan penyelesaian tugas-tugas perkembangan masa-masa sebelumnya. Untuk mengembangkan model keluarga yang ideal maka perlu dilakukan :
-Bimbingan tentang cara pergaulan dengan mengajarkan etika pergaulan lewat pendidikan budi pekerti dan pendidikan keluarga.
-Bimbingan siswa untuk memahami norma yang berlaku baik di dalam keluarga, sekolah, maupun di dalam masyarakat. Untuk kepentingan ini diperlukan arahan untuk kebebasan emosional dari orang tua.
d. Pendidikan tentang nilai kehidupan untuk mengenalkan norma kehidupan sosial kemasyarakatan perlu dilakukan. Dalam hal ini perlu dilakukan pendidikan praktis melalui organisasi pemuda, pertemuan dengan orang tua secara periodik, dan pemantapan pendidikan agama baik di dalam maupun di luar sekolah.
E. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Dari pembahasan  terhadap pokok permasalahan di atas, maka dapat  kami  simpulkan beberapa  hal diantaranya adalah :
1.           Bahwa masa  remaja merupakan  masa yang sangat menentukan, di mana anak banyak  mengalami  perubahan fisik  dan psikis,  mereka menuntut untuk diberi kesempatan mengemukakan pendapatnya sendiri, suka mencetuskan perasaannya, dan pengakuan  terhadap kedewasaannya hingga mengakibatkan kegelisahan di dalam dirinya, kurang tenang dengan keadaan lingkungan. Remaja juga sangat tertarik kepada kelompok sebaya, mencari perhatian di dalam lingkungannya, emosi yang meluap-luap, serta pertumbuhan fisik mengalami perubahan yang pesat.
2.           Bahwa pendidikan  harus diberikan  dan difungsikan secara maksimal  dalam rangka  memberikan keterampilan  dan menitikberatkan  pada pewarisan budaya, norma dan nilai.
3.           Sekolah sebagai salah satu instrument pendidikan  harus sekurang-kurangnya terdapat berbagai fungsi pada “personal” dan “interpersonal”, di mana sekolah adalah sebuah tempat yang menggambarkan sebuah konteks interaksi sosial dan mengembangkan kebersamaan.
4.           Ada tiga jenis lingkungan pendidikan  yang berpengaruh terhadap  remaja dan harus  dijalankan sesuai dengan fungsinya masing-masing yakni lingkungan pendidikan dimasyarakat, lingkungan pendidikan di sekolah dan lingkungan  pendidikan keluarga.
Saran
Adapun  saran-saran kami  untuk sebagai solusi  terhadap permsalahan ini adalah antara lain :
Perlunya  memahami  pertumbuhan  dan perkembangan remaja  sehingga  dipahami pola-popa perilaku  yang seharusnya  dinteraksikan  kepada mereka oleh  semua  pihak baik oleh  keluarga, masyarakat ataupun  para pendidik.

Berfikir Kreatif Harus Dimanifestasi


            Hal yang membuat manusia menjadi makhuk istimewa adalah karena Tuhan menganugerahkan akal dan pikiran untuk mengukuhkan eksistensi kita sebagai khalifah di dunia ini. Dengan demikian penting pula bagi kita untuk bisa mengungkapkan hasil pemikiran berupa ide-ide kreatif. Apalagi, bagi kaum muda yang seringkali diidentifikasi dengan kegairahan berpikir kreatif yang produktif.
Demikian diungkapkan oleh Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jakarta Barat Abdul Syakir S.Ag, di sela-sela acara kegiatan pelatihan jurnalistik berbasis internet bagi para pelajar dan remaja di Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, Kamis pekan lalu. 

            Lebih lanjut dikatakan pula oleh Calon Legislator Nomor 6 dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dapil Jakarta Barat tersebut, bahwa salah satu wujud yang cukup efektif untuk mengejawantahkan kegairahan berpikir kreatif kaum muda adalah sebentuk tulisan.  Dirinya menilai bahwa di dalam proses penulisan sebuah hasil pemikiran, diperlukan pengendapan ide-ide yang menuntut kesadaran dan perenungan sehingga tingkat pertanggungjawaban terhadap ide-ide lebih kental.

            “Dapat dikatakan itulah salah satu alasan mengapa babak sejarah kehidupan dicatat ketika manusia mulai mengenal bentuk-bentuk tulisan. Padahal sebelumnya tidak dapat kita nafikkan bahwa manusia juga telah memiliki inovasi komunikasi ide-ide dalam bentuknya yang lain,” kata Syakir.

            Namun tak dapat dipungkiri pula bahwa proses penulisan sebuah refleksi pemikiran bagi sebagian orang termasuk kaum muda, tidak dapat dilakukan semudah membalikan telapak tangan. Karena itulah menurut pria yang juga menjabat sebagai Ketua Pengkaderan PP Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama ini, dibutuhkan stimulan yang dapat memotivasi para pelajar SMA dan remaja untuk menumbuhkan budaya menulis dalam rangka mengukuhkan identitas kaum muda sebagai agen produktivitas pemikiran kreatif.

            “Salah satu stimulannya adalah penyelenggaraan kegiatan seperti ini. Sebab dalam pelatihan jurnalistik berbasis internet ini para pelajar SMA dan remaja dikenalkan secara akrab dengan dunia jurnalistik. Walaupun nantinya mereka tidak menekuni profesi sebagai jurnalis, paling tidak dari kegiatan ini mereka mendapatkan bekal untuk bisa menulis secara efektif dan kreatif,” tuturnya lagi.

            Jika kemauan menulis telah tumbuh, maka akan mendorong pengupayaan lebih lanjut dalam rangka menghasilkan sebuah tulisan. Antara lain, dengan meningkatkan intensitas kegemaran membaca. Sebab tidak dapat dipungkiri bahwa proses perwujudan refleksi pemikiran ke dalam sebuah tulisan membutuhkan referensi pengetahuan yang mendukung.

            Peningkatan intensitas kegemaran membaca ini tentunya juga memiliki efek domino positif yang cukup besar pengaruhnya bagi kemajuan bangsa. Berangkat dari hal tersebut maka kaum muda memiliki wawasan yang lebih luas untuk bisa membangun bangsa menuju ke arah masa depan yang lebih baik.

            Selain peningkatan intensitas kegemaran membaca, kemauan menulis juga dapat mendorong kaum muda untuk memiliki tingkat kepekaan sosial yang lebih tajam. Proses penulisan menuntut intuisi observasi yang detil, dengan demikian juga memberikan beragam pengalaman unik yang dapat menjadi sumber perhitungan tindakan kompleks sebagai bagian dari proses belajar yang berkelanjutan dan berkesinambungan.

             “Jadi dari motivasi menulis bisa kita lihat betapa banyak efek positif lainnya yang secara bertalian muncul menguatkan kualitas intelektualitas kaum muda. Dari itu sangat mugkin untuk mengharapkan kaum muda bisa terus memproduksi pemikiran-pemikiran yang memunculkan ide kreatif untuk membangun bangsa,” tandasnya.

Tindak lanjut setelah proses kreatif penuangan ide-ide dalam bentuk tulisan, adalah mengomunikasikannya sebagai dialektika kepada orang lain. Hal ini sebagai upaya pengembangan ide-ide. “Bisa saja memang, tulisan tersebut disimpan menjadi arsip pribadi. Namun mungkin lebih baik jika menjadi pengetahuan bagi orang lain juga,” kata Syakir lagi.

Salah satu cara yang cukup relevan untuk mengomunikasikan tulisan adalah melalui internet dengan menafaatkan layanan-layanan jaringan sosial komunitas maya yang sangat mewarnai sosialitas remaja saat ini seperti friendster, facebook atau multiply. Bisa juga melalui layanan jurnal yang tersedia secara cuma-cuma dan banyak diakses remaja seperti blogspot, wordpress, atau livejournal. 

“Pada dasarnya internet sangat bermanfaat bila kita gunakan dalam rangka memperluas wawasan ataupun pergaulan secara positif,” pungkasnya. (tin)

Orang Kreatif Banyak yang Tidak Jujur



Orang Kreatif Banyak yang Tidak Jujur




Orang-orang kreatif dinilai sebagai tipe orang yang terhormat dalam masyarakat. Seperti yang kita tahu, jarang profesi kreatif seperti; seniman, komposer hingga penulis novel yang terlibat dalam kasus kriminal dan penipuan, namun penelitian terbaru ini menunjukkan sebaliknya.
        Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Universitas Harvard dan Universitas Duke di North Carolina, Amerika menemukan adanya hubungan antara menjadi kreatif dengan tidak jujur. Pimpinan penelitian Francesca Gino mengatakan: "Kreativitas tinggi menolong individu menyelesaikan masalah di segala aspek kehidupan seperti cinta dan pekerjaan. Namun di sisi lain bisa membuat individu mengambil jalan tidak etis dan tidak benar dalam mencari solusi."
        Bersama dengan rekannya, Dan Ariely dari Universitas Duke, North Carolina memulai lima eksperimen untuk melihat sejauh mana orang-orang kreatif akan berbuat curang dalam keadaan tertentu dan bagaimana cara mereka membenarkannya. Para peneliti menggunakan tes psikologi untuk mengukur tingkat kreatifitas orang yang diteliti. Tes juga dilakukan untuk mengetes kecerdasan peserta.

        Selama proses dilakukan, ditemukan ada beberapa kecurangan yang membuktikan tidak adanya korelasi antara kepandaian dengan kejujuran. Fakta menarik menunjukkan orang kreatif lebih mudah berbohong sedangkan orang pandai yang tidak terlalu kreatif cenderung menolak berbohong.
        Studi yang diterbitkan di American Pyscological Association ini mengindikasikan fakta bahwa orang yang bekerja di lingkup kreatif yang menuntut pemikiran kreatif, lebih mudah menghadapi dilema etika. Bisa diambil contoh orang yang bekerja di bidang periklanan, biasa menggunakan kreativitas tinggi untuk membuat suatu produk yang tidak baik menjadi sangat diinginkan banyak orang.
        Meskipun hubungan antara kreativitas dan tidak jujur belum dipelajari secara luas, namun besar kemungkinan orang-orang kreatif juga cenderung berbohong untuk menyelesaikan sebuah masalah dalam segala aspek, mulai dari berkelit dengan presentasi yang baik dalam pekerjaan, mudah melontarkan rayuan gombal dalam percintaan hingga stretegi dalam mengelola teman.

Perkembangan Nilai dan Moral Remaja


Nilai kehidupan adalah norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, misalnya adat kebiasaan dan sopan santun (Sutikna dalam Sunaryo.2002:168) Sopan santun, adat istiadat dan kebiasaan serta nilai yang terkandung dalam Pancasila adalah nilai-nilai hidup yang menjadi pegangan seseorang dalam kedudukannya sebagai warga negara Indonesia dalam hubungannya dengan negara serta dengan sesama warga negara.
Moral adalah ajaran tentang baik buruk perbuatan dan kelakuan, akhlak, kewajiban. Dalam moral diatur segala perbuatan yang dinilai baik dan perlu dilakukan. Dan suatu perbuatan yang dinilai tidak baik dan perlu dihindari. Moral berkaitan dengan kemampuan membedakan antara perbuatan yang benar dan salah. Dengan demikian moral merupakan kendali dalam bertingkah laku.
        Dalam kaitannya dengan pengamalan nilai-nilai, maka moral merupakan kontrol dalam bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dimaksud. Misalnya dalam pengamalan nilai hidup tenggang rasa, dalam perilaku seseorang akan selalu memperhatikan perasaan orang lain dan dapat membedakan tindakan yang benar dan yang salah.
Nilai-nilai kehidupan sebagai norma dalam masyarakat senantiasa menyangkut persoalan antara baik dan buruk, jadi berkaitan dengan moral.
a.  Karakteristik Nilai dan Moral Remaja
Nilai-nilai kehidupan yang perlu diinformasikan dan selanjutnya dihayati oleh para remaja tidak terbatas  pada adat kebiasaan dan sopan santun saja, namun juga seperangkat nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, misalnya nilai keagamaan, kemanusiaan, keadilan, estetik, etik, dan intelektual dalam bentuk yang sesuai dengan perkembangan remaja.
        Salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasai remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok dari padanya dan kemudian bersedia membentuk perilaku agar sesuai dengan harapan sosial masyarakat tanpa terus dibimbing dan diawasi seperti masih anak-anak. Remaja diharapkan mengganti konsep-konsep moral yang berlaku umum dan merumuskannya ke dalam kode moral yang akan berfungsi sebagai pedoman bagi perilakunya. Michel (dalam Sunaryo.2002:171) mengemukakan lima perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan oleh remaja, yaitu:
1)     Pandangan moral individu makin lama makin menjadi abstrak.
2)     Keyakinan moral lebih terpusat pada apa yan benar dan kurang pada apa yang salah. Keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang dominan.
3)     Penilaian moral menjadi semakin kognitif. Hal ini mendorong remaja lebih berani mengambil keputusan terhadap berbagai masalah moral yang dihadapinya.
4)     Penilaian moral menjadi egosentris.
5)     Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal dalam arti bahwa penilaian moral merupakan bahan emosi danmenimbulkan ketegangan emosi.
        Kehidupan moral merupakan problematik yang pokok pada masa remaja. Maka perlu kiranya untuk meninjau perkembangan moralitas ini mulai dari waktu anak dilahirkan, untuk dapat memahami mengapa justru pada masa remaja hal tersebut menduduki tempat yang sangat penting.

Menurut Kolberg (dalam sunaryo.2002:172) ada tingkat perkembangan moral, yaitu:
1)      Prakonvensional (stadium 1 dan 2)
Pada stadium satu, anak berorientasi kepada kepatuhan dan hukuman. Anak mengganggap baik atau buruk atas dasar akibat yang ditimbulkannya. Anak hanya mengetahui bahwa aturan-aturan yang ditentukan oleh adanya kekuasaan yang tidak bisa diganggu gugat. Ia hanya menurut atau kalau tidak akan kena hukuman.
        Pada stadium dua, berlaku prinsip relativistik-hedonism. Pada tahap ini, anak tidak lagi secara mutlak tergantung kepada aturan yang ada di luar dirinya, atau ditentukan oleh orang lain, tetapi mereka sadar bahwa setiap kejadian mempunyai beberapa segi. Jadi ada relativisme, artinya bergantung pada kebutuhan dan kesanggupan seseorang (hedonistik). Misalnya mencuri ayam karena kelaparan, karen aperbuatan mencurinya untuk memenuhi kebutuhannya (lapar) maka mencuri dianggap sebagai perbuatan yang bermoral, meskipun perbuatan mencuri itu sendiri diketahui sebagai perbuatan yang salah karena ada akibatnya yaitu hukuman.

2)     Konvensional (Stadium 3 dan 4)
Stadium tiga menyambut orientasi mengenai anak yang baik. Pada stadium ini anak mulai memasuki belasan tahun, dimana anak memperlihatkan orientasi perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai baik atau tidak baik oleh orang lain. Masyarakat adalah sumber belajar yang menentukan apakah perbuatan seseorang baik atau tidak. Menjadi ‘anak manis” masih sangat penting dalam stadium ini.

Stadium empat yaitu mempertahankan norma-norma sosial dan otoritas. Pada stadium ini perbuatan baik yang diperlihatkan seseorang bukan hanya agar dapat diterima oleh lingkungan masyarakatnya, melainkan bertujuan agar dapat ikut mempertahankan aturan-aturan atau norma-norma sosial. Jadi perbuatan baik merupakan kewajiban untuk ikut melaksanakan aturan yang ada, agar tidak timbul kekacauan.

3)      Pasca-Konvensional (stadium 5 dan 6)
Stadium 5 merupakan tahap orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial. Pada stadium ini ada hubungan timbal balik antara dirinya dengan lingkungan sosialdengan masyarakat.Seseorang harus memperlihatkan kewajiban, harus sesuai dengan tuntutan norma-norma sosial karena sebaliknya, lingkungan sosial atau masyarakat akan memberikan perlingungan kepadanya.

Originalitas remaja juga tampak dalam hal ini. Pertama, remaja masih mau diatur secara ketat oleh hukum-hukum umum yang lebih tinggi. Meskipun di stadium ini kata hati sudah mulai berbicara, namun penilaian – penilainnya masih belum timbul dari kata hati yang sudah betul-betul diintenalisasi, yang sering tampak pada sikap yang kaku.
Stadium enam disebut prinsip universal. Pada tahap ini ada norma etik di samping norma pribadi dan subyektif. Dalam hubungan dan perjanjian antara seseorang dengan masyarakatnya ada unsur-unsur subyektif yang menilai apakah suatu perbuatan itu baik atau tidak. Subyektivisme ini berarti ada perbedaan penilaian antara seseorang dengan orang lain. Dalam hal ini, unsur etika akan menentukan apa yang boleh dan baik dilakukan atau sebaliknya. Remaja mengadakan penginternalisasian moral yaitu remaja melakukan tingkah laku – tingkah laku moral yang dikemudikan oleh tanggung jawab batin sendiri. Tingkat perkembangan moral pasca konvensional harus dicapai selama masa remaja.
        Menurut Furter (Dalam Monk,1984:257) menjadi remaja berarti mengerti nilai-nilai. Remaja dituntut tidak hanya mengerti nilai-nilai saja, melainkan juga dapat menjalankannya. Hal ini berarti bahwa remaja sudah dapat menginternalisasikan penilaian moral, menjadikannya sebagai nilai pribadi, dan penginternalisasian nilai akan tercermin dalam sikap dan tingkah lakunya.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi perkembangan Nilai.
Berdasar sejumlah hasil penelitian, perkembangan internalisasi nilai terjadi melalui identifikasi dengan orang-orang yang dianggapnya sebagai model. Bagi anak-anak usia 12-16 tahun, gambaran ideal identifikasi adalah orang dewasa yang simpatik, teman-teman, orang-orang terkenal, dan hal-hal ideal yang diciptakannya sendiri.
        Bagi para ahli psikoanalisa perkembangan moral dapandang sebagai proses internalisasi norma-norma masyarakat dan dipandang sebagai kematangan dari sudut organik biologis. Menurut psikoanalisa, moral dan nilai menyatu dalam konsep superego. Superego dibentuk melalui jalan internaliasi larangan dan perintah yang datang dari luar (khususnya orang tua) sehingga akhirnya terpencar dari dalam diri sendiri. Karena itu, orang-orang yang tak mempunyai hubungan harminis dengan orang tuanya di masa kecil, kemungkinan besar tidak mampu mengembangkan super ego yang cukup kuat, sehingga mereka bisa menjadi orang yang sering melanggar norma masyarakat.
        Teori lain yang non psikoanalisa beranggapan bahwa hubungan anak dengan orang tua bukan satu-satunya sarana pembentuk moral. Para sosiolog beranggapan bahwa masyarakat sendiri mempunyai peran penting dalam pembentukan moral. Tingkah laku yang terkendali disebabkan oleh adanya kontrol dari masyarakat itu sendiri yang mempunyai sanksi-sanksi tersendiri buat pelanggarnya (sarlito, 1992:92)
        Di dalam usaha membentuk tingkah laku sebagai pencerminan nilai-nilai hidup  tertentu ternyata bahwa faktor lingkungan mmegang peranan penting. Di antara segala unsur lingkungan sosial yang berpengaruh, tampaknya sangat penting adalah unsur lingkungan berbentuk manusia yang langsung dikenal atau dihadapi oleh seseorang sebagai perwujudan dari nilai-nilai tertentu. Dalam hal ini lingkungan sosial terdekat yang terutama terdiri dari mereka yang berfungsi sebagai pendidik dan pembina. Makin jelas sikap dan sifat lingkungan terhadap nilai hidup tertentu dan moral makin kuat pula pengaruhnya untuk membentuk tingkah laku yang sesuai.
        Teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Kohlberg menunjukkan bahwa sikap moral bukan hasil sosialisasi atau pelajaran yang diperoleh dari kebiasaan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan nilai budaya. Tahap-tahap perkembangan moral terjadi dari aktifitas spontan pada anak-anak (singgih G. 1990:202). Anak memang berkembang melalui interaksi sosial, tetapi interaksi ini mempunyai corak yang khusus, yang dipengaruhi faktor pribadi.

Upaya mengembangkan nilai danmoral
        Perwujudan nilai, moral, dan sikap tidak terjadi dengan sendirinya dan tidak semua individu mencapai tingkat perkembangan moral seperti yang diharapkan. Oleh karena itu orang dewasa perlu membantu remaja dengan memberi pembinaan. Adapun upaya yang dapat dilakukan dalam mengembangkan nilai, moral, dan sikap remaja adalah sebagai berikut:
1)     Menciptakan komunikasi.
Dalam komunikasi didahului dengan pemberian informasi tentang nilai  dan moral. Anak tidak pasif mendengarkan dari orang dewasa, bagaimana seseorang harus bertingkah laku sesuai dengan norma dan nilai moral, tetapi anak-anak harus dirangsang supaya lebih aktif. Hendaknya ada upaya untuk mengikutsertakan remaja dalam beberapa pembicaraan dan dalam pengambilan keputusan keluarga, sedangkan dalam kelompok sebaya, remaja turut serta aktif dalam tanggung jawab dan penentuan maupunkeputusan kelompok.
Di sekolah remaja hendaknya diberi kesempatan berpartisipasi untuk mengembangkan aspek moral misalnya dalam kerja kelompok, sehingga dia belajar tidakmelakukan sesuatu yang akan merugikan orang lain karena hal itu tidak sesuai dengan nilai dan norma moral. Mempelajari nilai memerlukan kesempatan untuk diterima dan diresapkan sebelum  menjadi bagian integral dari tingkah laku seseorang. Selanjutnya, nilai-nilai yang dipelajari akan berkembang dalam konteks kehidupan bersama.
 2)     Menciptakan iklim yang sesuai
Seseorang yang mempelajari nilai hidup tertentu danmoral, kemudian berhasil memiliki sikap dan tingkah laku sebagai pencerminan nilai hidup itu umumnya adalah seorang yang hidup dalam lingkungan yang positif, jujur, dan konsekuen mendukung bentuk tingkah laku yang merupakan pencerminan nilai hodup tersebut. Ini berarti abahwa usaha pengembangan tingkah laku nilai hidup hendaknya tidak hanya mengutamakan pendekatan intelektual semata tetapi memerlukan lingkungan yang kondusif di mana faktor-faktor lingkungan itu sendiri merupakan penjelmaan yang kongkrit dari nilai hidup tersebut. Karena lingkungan merulakan faktor yang cukup luas dan sangat bervariasi, maka tampaknya yang perlu diperhatikan adalah lingkungan sosial terdekat yang terutama terdiri dari mereka yang berfungsi sebagai pendidik dan pembina yaitu orang tua dan guru.
        Para remaja sering bersikap kritis, menentang nilai dan dasar hidup orang tua dan orang dewasa lainya. Ini tidak berarti mengurangi kebutuhan mereka akan suatu sistem nilai yang tetap dan memberi rasa aman kepada remaja. Mereka tetap mengingatkan suautu sistem nilai yang akan menjadi pegangan dan petunjuk bagi perilaku mereka. Karena itu, orang tua dan guru serta orang dewasa lainnya perlu memberi model atau contoh perilaku yang merupakan perwujudan nilai yang diperjuangkan.
        Usia remaja, moral merupakan suatu kebutuhan tersendiri oleh karena itu mereka sedang dalam keadaan membutuhkan pedoman atau petunjuk dalam rangka mencari jalannya sendiri. Pedoman ini juga untuk menumbuhkan identitas dirinya, menuju kepribadian yang matang dan menghindarkan diri dari konflik-konflik peran yang selalu terjadi dalam masa transisi ini.
Nilai-nilai keagamaan perlu mendapat perhatian, karena agama juga mengajarkan tingkah laku yang baik dan buruk sehingga secara psikologis berpedoman kepada agama juga mengajarkan tingkah laku yang baik dan buruk, sehingga secara psikologis berpedoman kepada agama.
        Akhirnya, lingkungan yang lebih bersifat mengajak, mengundang, atau memberi kesempatan, akan lebih efektif dari pada lingkungan yang ditandai dengan larangan-larangan dan peraturan yang serba membatasi.